Wikipedia

Hasil penelusuran

Senin, 24 Agustus 2009

Kawasan Wisata Rembangan Jember



Rembangan Kawasan Wisata Potensial yang Menjanjikan

lontarnews.com
Prospek kewisataan Rembangan, agaknya akan menjadi tambang emas bagi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Jember. Ini setelah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah memberikan persetujuan atas usulan Pemkab Jember untuk melibatkan investor dalam pengelolaan wisata Rembangan berikut kawasan dan sejumlah potensi yang ada di sekitarnya.
Investor yang kabarnya berasal dari Surabaya itu, rencananya akan menanamkan modalnya di Rembangan hingga sebesar Rp 15 milliar. “Nilai investasinya sekitar 15 milliar,” ungkap Drs Suprapto, M.Si, Kepala Dinas Pendapatan Jember, kepada lontarnews, di ruang kerjanya.
Suprapto berharap, kerjasama pengelolaan atas potensi kewisataan Rembanga ini, akan mampu mendongkrak target pendapatan asli daerah dari kawasan itu. Selama ini, dengan hanya mengandalkan pemandian dan penginapan (hotel), Rembangan mampu menyumbang Rp 400 juta per tahun. “Harapannya kalau sudah digarap investor bisa menyumbang PAD Rp 750 juta per tahun,” harap Suprapto.
Kontrak kerjsama antara Pemkab Jember dengan pihak investor untuk pengelolaan Rembangan ini, diperkirakan akang berlangsung sekitar 20 sampai 30 tahun. Selama berlangsungnya kontrak ini, diharapkan juga ada dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Untuk pengembangan kawasan wisata di belahan Jember bagian utara ini, Pemkab Jember akan memanfaatkan lahan seluas 43 hektar. Kawasan wisata ini tidak hanya akan mengandalkan perhotelan saja, tapi kawasan itu akan disulap menjadi kawasan Wisata Agro yang di dalamnya juga ada Peternakan Sapi Perah.
Terkait nilai historis bangunan yang ada Rembangan, Suprapto menuturkan bahwa bangunan induk Hotel Rembangan, yang sampai saat ini berdiri megah, termasuk cagar budaya. Kalaupun harus direhabilitasi, gedung yang dibangun sejak zaman Belanda ini, tidak boleh merubah bentuk aslinya.
Kawasan wisata dan Hotel Rembangan yang berada pada ketinggian 600 meter di atas permukaan air laut (dpl), dibangun oleh Mr. Hoffside pada tahun 1937. Kawasan Rembangan ini terletak di Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, sekitar 15 kilometer ke utara dari pusat kota Jember. Suhu udaranya berkisar 18 - 25 derajat celcius, dengan rata-rata curah hujan 4.626 milimeter per tahun. (ind)




Rabu, 19 Agustus 2009

Tak Ada Sarana, Sungai pun Jadi Lapangan Volli


lontarnews.com
Kalau keinginan sudah tak bisa dibendung, apapun akan dilakukan. Termasuk kalau ingin berolahraga, kalau lapangan yang dibutuhkan memang tidak tersedia, sungaipun bisa dimanfaatkan. Seperti yang terjadi di Jember, akibat kemarau yang berkepanjangan dan sungai mengalami penurunan debit air, menjadikan sebagian dasarnya menyembul jadi daratan. Berubahnya dasar sungai menjadi daratan ini oleh pemuda setempat dimanfaatkan untuk bermain bola volli


Kemarau panjang yang melanda hampir sebagian besar daerah di tanah air dan menyebabkan terjadinya kekeringan, ternyata tidak selalu membuat resah masyarakat. Meski banyak orang yang mengeluh karena sulit mendapatkan air, namun di sisi lain ternyata ada juga sebagian masyarakat yang memanfaatkan musim kemarau ini untuk melakukan kegiatan tertentu.
Contohnya, sungai Jompo, yang terletak di belakang masjid Al Baitul Amien, Jember dan airnya mengalami penyusutan debit cukup tinggi, buat pemuda setempat ternyata memberi manfaat tersendiri. Mengecilnya debit air pada sungai Jompo, yang diikuti dengan berubahnya beberapa bagian dasar sungai menjadi daratan, oleh pemuda setempat dimanfaatkan untuk sarana olahraga bola volli.
Pemanfaatan dasar sungai yang sudah berubah menjadi daratan menjadi lapangan volli ball ini, karena di daerah itu sarana olahraga memang boleh dibilang sangat terbatas. Karena itu mereka berusaha memanfaatkan apa saja, asal bisa melakukan kegiatan olahraga. (ind)

Selasa, 11 Agustus 2009

Flu Babi Tidak Terlalu Berbahaya


lontarnews.com
Virus flu babi (H1N1) yang berasal dari daratan benua Amerika atau tepatnya negara Mexiko, dan bisa mengakibatkan kematian, pada dasarnya tidak perlu terlalu dicemaskan. Itu dikarenakan case fatality rate dari vitus ini, menunjukkan masih di bawah flu burung maupun demam berdarah dengue (DBD). Karena itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, dr Olong Fadjri Maulana, MARS, meminta masyarakat untuk tidak terlalu resah terhadap flu babi, meski harus juga tetap mewaspadainya.

Imbauan dr Olong ini disampaikan, karena angka kematian akibat kasus tersebut sangat rendah. Dibanding flu burung tingkat kematian pada penderita flu babi hanya 0,5 persen. Artinya jika ada 1000 orang yang terkena flu burung, maka kemungkinan yang meninggal bisa mencapai 700 hingga 800 orang.
Demikian juga dengan demam berdarah, jika ada 1000 orang yang menderita demam berdarah, maka kemungkinan yang meninggal bisa mencapai sekitar 10 orang. Sedang untuk flu babi, jika terdapat 1000 orang yang terserang, kemungkinan yang meninggal sekitar 5 orang. “Artinya lebih berbahaya Demam berdarah daripada flu baru (flu babi-red),” ujar dr Olong.
Pernyataan dr Olong yang melansir pernyataan resmi Menteri Kesehatan itu, dalam rangka menanggapi adanya keresahan masyarakat terhadap maraknya pemberitaan soal ancaman flu babi. Hanya saja, meski terbilang tidak terlalu membahayakan, masyarakat sebaiknya tetap mewaspadai kemungkinan terjangkit flu baru ini. “Paling tidak masyarakat harus tetap melakukan kebiasaan pola hidup bersih,” tukasnya.
Virus flu baru ini, kata Olong, gampang menular ke siapapun, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Penularannya bisa terjadi lewat dahak, bersin ataupun benda-benda seperti piring, sendok, gelas, handuk, sabun, maupun sikat gigi, yang sudah terkontaminasi virus atau yang dipakai penderita flu babi. “Jika itu bisa dihindari maka resiko tertular sangat kecil,” imbuhnya lontarnews. com di ruang kerjanya.
Dikatakannya, adanya perkembangan baru genetik maka penularan flu babi ini bisa melalui manusia bukan lagi binatang. Flu babi yang untuk pertama kalinya muncul di Mexiko dan disebut mexican strain ini, kini disebut flu baru. Dengan penyebaran melalui manusia, maka terbuka peluang setiap orang bisa terkena flu baru. Karena itu apabila salah satu anggota keluarga terjangkiti flu babi, hendaknya secepatnya dibawa ke rumah sakit ataupun puskesmas.
Dihimbau untuk penderita flu babi hendaknya diisolasi dalam kamar tersendiri, sehingga tidak menular ke anggota keluarga yang lain.
“Untuk penderita flu biasa apabila telah mencapai 3 hari tidak juga sembuh, sebaiknya segera ke petugas kesehatan, baik itu di puskesmas atau ke dokter dan sebaiknya mengisolasi dirinya hingga sembuh,”pungkasnya.(wan)


Rabu, 05 Agustus 2009

Jember Fashion Carnaval (JFC)





Sekelas Karnaval Bunga Pasadena

lontarnews.com.
Jember Fashion Carnaval (JFC) ke 8, yang digelar hari Minggu 2 Agustus 2009, dan merupakan icon dari Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ), mengundang decak kagum hampir seluruh penonton yang menyaksikannya. Beragam kreasi busana atau fashion yang diangkat dalam karnaval tahunan hasil olahan koreografer Dynan Faris ini, mampu membuat orang terperangah, karena bagusnya dan memang spektakulaer. Tak heran kalau Marta Tilaar, bos Perusahaan Komestik Sari Ayu, kemudian mengatakan Jember Fashion Carnaval tidak kalah dibanding Karnaval Bunga Paseda, Amerika Serikat.


Prof Dr.Ayu Sutarto, Budayawan dan Dosen Fakultas Sastra, Universitas Jember
“JFC Jember Bisa Jadi Global Village”
Saya melihat JFC ke-8 ini lebih hebat dari pelaksanaan JFC sebelumnya, sebagai warga Jember saya bangga dengan JFC sebab dari kota kecil seperti Jember ini muncul gagasan unik dalam bidang kreatifitas fashion dan merupakan trend mode global, dan JFC sebagai ikon kota Jember adalah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.”Dengan sentuhan keagungan seni di balik maha karya desainer Jember, JFC telah menjadi milik Indonesia dan dunia. JFC ini sudah mengglobal dan tak heran sekarang Jember telah menjadi negeri yang mendunia atau global village, itu berkat kreatifitas dan inovasi berkumpulnya desainer Jember di ajang JFC,”tegas Ayu.
Ayu menambahkan, tema yang diusung JFC begitu beragam dari mulai sentuhan kedaerahan, disamping sentuhan yang lain seperti fiksi yang apik dan memikat terlihat dari busana yang mereka tampilkan. Ayu juga menampik adanya anggapan dari masyarakat bahwa JFC hanya berkiblat pada trend busana global tanpa mengindahkan budaya daerah, menurutnya prospek JFC ini masih menjanjikan sepanjang ide atau gagasan kreatifitas itu belum mati maka JFC kelak bisa disejajarkan dengan karnaval bunga Pasadena Amerika yang jauh lebih dulu ada ketimbang JFC ini.

Yon Sudiono, Kameramen Rajawali TV Kabupaten Malang
“JFC Perhelatan Akbar Dibidang Fashion Internasional,”
Bagi Yon Sudiono salah seorang kameramen Rajawali TV milik mantan KSAD Jendral Purnawirawan TNI R. Hartono di era kepemimpinan orde baru, sangat mengagumi JFC dan merupakan pengalaman tersendiri sepanjang hidupnya karena baru kali ini ia diundang ke Jember dan diberi kesempatan menyaksikan dari dekat karnaval yang mengundang decak kagum itu. “Di Malang aja karnaval seperti JFC ini tidak pernah ada, saya baru pertama kali lihat JFC dan tidak salah jika JFC menjadi ikon kebanggaan masyarakat Jember. Kreatifitas kostum yang dikenakan oleh peserta JFC itu layak diacungi jempol, karena dibuat dari bahan dasar yang murah, dan mudah didapat,”jelas Yon.
Menariknya lagi menurut Yon Sudiono perpaduan kostum dari unsur tradiosional dan modern bisa tampil bareng dan saling mendukung serta memiliki estetika yang sangat tinggi, dan tidak memalukan dan layak menjadi tontonan yang menghibur dan kehadirannya selalu dirindukan oleh banyak orang, sekaligus JFC bukan hanya sekedar karnaval tapi menjadi ajang perhelatan akbar dibidang fashion internasional. “Tahun depan saya ingin kembali ke Jember bila diundang lagi untuk melihat JFC oleh pihak panitia penyelenggara, sekali lihat JFC sulit dilupakan dan apa yang saya lihat hari ini tentang JFC akan saya ceritakan kepada orang-orang terdekat saya di Malang,”imbuh Yon.

Kartika Ibu, Rumah Tangga
“JFC Bukan Tontonan Murahan, Tapi Sekaligus Juga Mendidik ”
Setiap tahun disaat JFC unjuk kebolehan di alun-alun Jember dan selalu dibanjiri oleh penonton baik dari Jember maupun dari luar kota, Kartika ibu dua orang anak ini sengaja tidak pernah masak karena tidak mau melewatkan JFC begitu saja. ” Saya kira JFC itu tontonan bergengsi bukan murahan karena ide dan kreatifitas fashionnya selalu ada yang baru, uniknya tema yang dibawakan selalu mengikuti perkembangan yang ada di masyarakat. Saat berlangsung world cup (piala dunia) beberapa waktu lalu juga menjadi insipirasi kreatifitas JFC, ternyata itu juga yang menjadi ciri khas JFC sehingga enak ditonton dan tidak membosankan bagi siapa saja yang melihatnya,” kata Kartika.
Disamping itu JFC juga cukup mendidik masyarakat untuk mencintai produk dalam negeri, bahan kostum yang dipakai peserta JFC juga buatan dalam negeri dan tidak kalah kwalitasnya dengan produk luar negeri. “Melalui JFC ini sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa kita juga punya produk dan budaya tradisional yang adi luhung, dan itu semua sudah dibuktikan oleh JFC bahwa apa yang dimiliki oleh negeri ini layak untuk untuk ditampilkan melalui karnaval semacam ini. JFC bagian dari BBJ tidaklah terlampau berlebihan, mengingat JFC diakui memberi andil untuk mendatangkan wisatawan domestik maupun mancanegara datang ke Jember melihat potensi wisata daerah yang ada.”terang Kartika.

Fendi Aditya, Mahasiwa Fakultas Hukum Universitas Negeri Jember
“ Rekor Catwalk Terpanjang Hanya Dipunyai Oleh JFC ”
Hadirnya JFC adalah sarana efektif mengangkat nama daerah dimata internasional melalui keragaman kereasi fashion yang dimiliki, bahkan JFC mampu memecahkan rekor dibidang peragaan busana dengan catwalk terpanjang di dunia yakni 3,6 Km. “Predikat itu memang pantas disandang oleh JFC dan itu hanya dipunyai oleh JFC, sebagai seorang mahasiwa kelahiran asli Jember tentu saya sangat bangga dengan JFC.Jujur saja teman-teman kuliah saya yang kebanyakan pendatang dari daerah lain banyak yang iri dengan JFC, kenapa di daerahnya karnaval semacam JFC tidak ada dan kenapa hanya dipunyai oleh Jember?. Ini menunjukan Jember khususnya JFC sangat kreatif sekaligus memberi pencitraan yang positif bagi daerah dan Indonesia sebagai bangsa yang ramah dan berbudaya.
Disisi lain JFC sangat mendukung program pemerintah pusat yakni tahun ekonomi kreatif dan visit Indonesia year 2009, melalui karnaval fashion dunia (world fashion carnival) JFC menyemarakan perkembangan dunia mode.“Paling tidak dengan adanya JFC Jember bisa jadi tujuan wisata diantara sekian banyak tempat wisata di Indonesia, itu sudah dirintis sejak delapan tahun lalu oleh JFC dan hasilnya sungguh luar biasa banyak turis dari mancanegara yang datang ke Jember. Siapa bilang JFC lebih condong ke budaya barat seperti yang dikatakan sebagian masyarakat, anggapan seperti itu tidak benar karena JFC masih bernuasa kebangsaaan” .pungkas Fendi

Andri Gromiko, Anggota Jember Photography (JPG)
“ JFC Obyek Foto Spektakuler Bagi Para Fotografer”
Bagi seorang fotografer seperti Andri Gromiko sangat diuntungkan dengan adanya JFC, karena selain menjadi daya tarik tersendiri bagi para fotografer juga JFC sebagai obyek foto yang luar biasa untuk menghasilkan sebuah foto yang bagus dan menarik.” Saya bangga dengan Jember karena menjadi tempat tujuan pemotretan ratusan fotografer baik dari dalam negeri dan luar negeri, saya merasa tertantang berbaur dengan fotografer lain dalam mengabadikan JFC ini untuk bersaing mendapatkan gambar berkwalitas dan sakan dimunculkan dalam website JPG.Kalau tidak ada JFC mungkin para fotografer tidak bisa satu panggung dengan fotograger asing, selain itu bisa saling bertukar pengalam dibidang fotografi“ jelas Gromiko kelahiran Batu Malang itu.
Diakui oleh Gromiko meski para fotgrafer “bule” pirantinya lebih canggih tapi tidak menciutkan nyali fotografer dalam negeri , kebanyakan fotografer Indonesia jugamemiliki jam terbang tinggi di dunia fotografi.” Hasil karya foto mereka bisa disejajarkan dengan fotografer asing, bahkan diantaranya ada yang pakar infra red sebuah teknik pengambilan foto. Mengabadikan JFC dalam foto berarti merekam sebuah peristiwa bersejarah, JFC layak untuk diabadikan dengan segala kehebatannya dan keanggunannya. Biarkan foto yang bicara tentang JFC karena setiap detik, setiap menit apa yang ditampilkan oleh JFC terekam oleh kamera fotografer. Itu menjadi momentum penting bahwa di Jember telah lahir maha karya seni yang agung dibidang fashion, duniapun mengakui kemampuan JFC yang sangat luar biasa itu ” tukas Gromiko.

Martha Tilaar, Produsen Kosmetik Sari Ayu
“JFC Tidak Kalah Dengan Karnaval Bunga Pasadena”
Hebat dan fantastis itu komentar yang terucap dari bibir produsen kosmetik ternamadi Indonesia Sari Ayu saat diundang untuk melihat langsung JFC, kegembiraan dan kekagumannya pada JFC ke 8 tidak bisa disembunyikan dari raut muka wanita berusia senja yang masih menampakkan sisa-sisa kecantikan di wajahnya itu. “Tidak rugi saya datang langsung ke Jember hanya untuk menyaksikan tontonan JFC, luar biasa itu kesan saya kepada JFC dan jarang ada karnaval seperti ini apalagi muncul dikota kecil seperti Jember ini. JFC bukan hanya wujud kreatifitas desainer di Jember seperti Dynan Fariz, tapi boleh jadi JFC sekarang ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup (life Style). Perubahan itu saya rasakan lebih mengarah kepada hal yang positif bukan hura-hura, dan sepertinya masyarakat Jember khususnya dan Indonesia pada umunya sudah menerima perubahan itu ”papar Martha Tilaar.
Kebetulan antara JFC dan kosmetik Sari Ayu ini ada hubungan kemitraan, Sari Ayu adalah kosmetik yang dipakai oleh JFC dan cocok sekali bagi kulit orang Indonesia. Kapasitas saya di JFC sebagai partisipator untuk menangani kosmetik yang dipakai para peserta, bisa dilihat sendiri kosmetik Sari Ayu ini tidak luntur saat dipakai ketika panas sekalipun. Sari Ayu sudah dipercaya JFC selama delapan tahun bermitra kerja, dan ini adalah kemitraan yang sinergis antara Dynan Faris seorang desainer dan Martha Tilaar seorang pakar kecantikan. JFC juga saya nilai penampilannya luar biasa bagusnya, kalau jujur boleh saya katakan di Amerika tidak kalah dengan karnaval bunga Pasadena. Bahkan tidak hanya saya saja yang bilang begitu, tapi ada beberapa teman saya diluar negeri setelah melihat JFC di televisi juga berpendapat demikian .,”tutur Martha Tilaar. (*)

Selasa, 04 Agustus 2009

Panbers Ingin Ciptakan Lagu untuk Jember


Ada perasaan senang dan bahagia, ketika jejak kaki menapak di bumi yang pada beberapa tahun sebelumnya pernah disinggahi. Itulah Benny Panjaitan yang bersama kelompoknya Panbers, mencoba menapaki kembali masa kejayaannya seperti era tahun 70-an. Dia mengaku senang bisa datang kembali ke Jember, sebagaimana pernah dilakukan pada tahun 1974 silam.
Tiga puluh lima tahun yang silam atau tepatnya tahun 1974, sekelompok anak muda yang tergabung dalam grup musik,Panbers menggebrak Kota Jember. Dengan kepiwaiannya memainkan alat musik, mereka menyenandungkan lagu karya ciptanya sendiri yang ketika itu cukup hits.
Mereka yang tergabung dalam kelompok musik Panjaitan Bersaudara (Panbers) itu, merupakan grup musik papan atas pada era 70-an. Banyak lagu yang diciptakan sekaligus dilantunkannya sendiri sangat digemari ketika itu.
Diantara lagu yang berhasil menembus puncak tangga lagu dan sangat populer ketika itu adalah, Pilu, Hidup Terkekang, Kisah Cinta Remaja, Semusim Bunga, Pelipur Lara, Maafkan Daku, Akhir Cinta, Risau, Pergi dan Berlalu, Gereja Tua, Mengapa Harus Jumpa dan beberapa lagu lainnya.
Kini di usianya yang sudah tidak muda lagi, mereka berusaha mencoba untuk mengenang kembali kejayaan sebagaimana pernah diraihnya pada masa lalu. Sejumlah kota yang pada masa keemasannya dulu pernah disingghi, kini didatanginya lagi.
Salah satu kota yang menjadi daerah tujuan dari napak tilas kejayaan Panbers itu adalah Kota Jember. Di kota ini, Benny Panjaitan, sebagai dedengkot sekaligus vokalis Panbers, mengaku punya kesan tersendiri. Banyak kenangan yang dirasakannya di kota dengan julukan Kota Tembakau ini.
Begitu indah nama Jember di mata Benny, hingga dia berkeinginan untuk membuat lagu yang berceritera soal Jember. “Saya ingin membuat lagu tentang Jember. Katanya di sini (Jember) ada pantai yang indah. Itu bisa kita jadikan lagu,”ucapnya.
Indah kedengarannya kalau saja keinginan Benny menciptakan lagu tentang Jember itu bisa terlaksana. Setidaknya masyarakat Jember akan merasakan kebanggaan nan tak terhingga, karena daerahnya dibuat lagu oleh seorang seniman besar yang namanya sangat dikenal.
Benny mengaku tertarik untuk menulis lagu tentang pantai Papuma, setelah ia melihat gambar pantai itu dari buku profil dan potensi Kabupaten Jember, yang diterimanya dari Wakil Bupati Jember, Kusen Andalas dalam acara ramah tamah di aula bahwa Pemkab Jember. Dari gambarnya, kata Benny pantai itu terlihat sangat indah. “Bisa kita buat lagu misalnya, Senja di Papuma”, kata Benny.
Bahkan kalau mungkin, untuk pembuatan lagu tentang Pantai Papuma ini, bisa dilakukan lewat lomba. Sehingga dengan begitu, seluruh masyarakat dan seniman, bisa mengikutinya. “Lagu itu nantinya bisa dijadikan trade mark Kabupaten Jember,” tandasnya. (ind)

Malam Amal Kemanusiaan PMI Bersama Panbers


Jember-LONTAR.
Sebagai publik figur, keberadaan seorang artis di mata masyarakat, dipandang sebagai sosok yang memiliki kelebihan tertentu. Karena itu tak jarang kehadiran mereka dalam suatu kegiatan, banyak menyedot perhatian masyarakat, sebab memang dielu-elukan.

Nah, dalam rangka menyedot perhatian masyarakat ini, PMI cabang Kabupaten Jember, mengundang kelompok musik legendaris Panjaitan Bersaudara (Panbers), ke Jember. Kehadiran Panbers yang akan tampil dalam acara Tembang Kenangan di Rumah Makan New Sari Utama pada Selasa malam, 4 Agustus ini, dalam rangka Malam Amal Kemanusiaan dan Kampanye Anti Narkoba PMI.
Namun begitu, sebelum memulai acaranya, personil Panbers, yang terdiri dari Benny Panjaitan, Asido Panjaitan, Hans Panjaitan dan Doan Panjaitan, pada siang harinya berkesempatan untuk bertemu pejabat Pemkab Jember. Kehadiran pemusi-pemusik gaek di Jember ini diterima Wakil Bupati Jember, Kusen Andalas dan Asisten Ekonomi Pembangunan, Drs H Edy B Susilo, M.Si, di aula bawah Pemkab Jember.
Kepada personil Panbers, pada kesempatan itu Wabup, mengatakan, bahwa secara umum Jember tidak termasuk dalam daerah yang rawan penyalahgunaan obat-obatan terlarang (narkoba). Bebasnya Jember dari persoalan narkoba ini, kata wabup, karena Pemkab Jember sendiri berusaha untuk terus melakukan antisipasi pada setiap kemungkinan terjadinya penggunaan narkoba.
Selain itu, kata wabup, sejalan dengan program jangka pendek dan menengah Pemerintah Kabupaten Jember, prioritas pembinaan mental lewat lembaga pondok pesantren senantiasa dilakukan. “Jember ini dikenal sebagai kota pendidikan. Pondok pesantrennya saja tidak kurang dari 700 lembaga. Karena itu arah pembangunan di sini (Kabupaten Jember), adalah Jember Relegius,” terang Wabup, yang didampingi Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Pemkab Jember, Drs H Edy B Susilo, M.Si.
Sementara Benny Panjaitan, vokalis sekaligus maskot dari kelompok Panbers, pada kesempatan itu menyatakan kegembirannya karena bisa hadir di Kota Jember, yang pada tahun 1974 silam, pernah dikunjunginya. Kehadirannya di Jember ini, kata pelantun lagu-lagu populer Panbers, seperti Pilu, Semusim Bunga, Risau, Pergi dan Berlalu, Hidup Terkekang dan Akhir Cinta dan sebagainya itu, selain dalam rangka Malam Amal Kemanusiaan dan Kampanye Anti Narkoba PMI, sekaligus untuk bernostalgia.
“Saya senang bisa datang lagi ke kota Jember. Ini napak tilas dari perjalanan Panbers mulai dari Medan, hingga ke Jember,” kata Banny, didampingi saudara-saudaranya yang tergabung dalam kelompok Panbers. (ind)


Senin, 03 Agustus 2009

PAD Jember Naik Setiap Tahun


Jember-LONTAR
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Jember mengalami kenaikan tiap tahun. Tahun 2005 misalnya dari Rp 51, 47 milliar, tahun 2006 naik menjadi Rp 68 milliar. Sedangkan tahun 2007 mengalami kenaikan tertinggi menjadi Rp 89 milliar dan di tahun 2008 PAD Jember meningkat menjadi Rp 135.470 milliar. Demikian disampaikan Drs Suprapto, Kepala Dinas Pendapatan Daerah Pemkab Jember


Dikatakan Pendapatan Asli Daerah (PAD) itu bersumberkan dari pajak daerah, retribusi daerah, pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain lain pendapatan daerah yang sah. “Jumlahnya tiap tahun selalu meningkat, ”lanjutnya.
Dari sisi sektor pajak daerah di tahun 2005 Jember hanya bisa merealisasikan Rp 16 milliar, di tahun 2008 meningkat tajam menjadi Rp 24 milliar lebih per tahun. Sementara itu retribusi daerah meliputi (parkir, dan ijin galian) di tahun 2005 direalisasikan sebesar Rp 22 milliar, di tahun 2008 menjadi Rp 65 milliar lebih.
Lebih jauh Suprapto, menegaskan bahwa banyak hal yang masih bisa digali untuk menambah pemasukan PAD di Kabupaten Jember. Belum lagi ada proses perijinan tentang galian B bidang pertambangan, dan belum optimalnya pajak-pajak di rumah sakit swasta terkait pelayanan di Kabupaten Jember. “Sementara ini Pemkab Jember masih belum memiliki perda khusus terkait pertambangan galian B, sehingga masih mengandalkan galian C untuk retribusinya, ”ujar Suprapto.
Padahal, katanya potensi besar terkait pertambangan masih banyak yang bisa digali di Kabupaten Jember. Bukan hanya itu, belum optimalnya pengelolaan tempat wisata milik Pemerintah yang menurutnya bisa dikelola oleh swasta dengan profesional. “Pemerintah akhirnya diuntungkan, karena bisa mematok target. Tapi yang jelas MoU harus jelas terlebih dahulu, ”ujar Suprapto, dengan segudang terobosan dan ide ini.
Diharapkan ke depan dengan kemampuan Anggaran Kabupaten Jember yang mencapai Rp 1.280 Trilliun itu, pemerintah bisa berbuat lebih banyak lagi. Bahkan untuk meningkatkan pendapatan daerah itu Dispenda berupaya untuk memaksimalkan target pemasukan beberapa retribusi diantaranya tempat wisata, hotel, dan restoran yang tumbuh dengan pesat di Kabupaten Jember.
“Iklim investasi itu membuat pendapatan daerah meningkat. Tapi jaminan investasi itu adalah terkait keamanan, dan stabilitas daerah harus tetap terjaga, ”ujar Suprapto. (joy)

DPRD Jember Dukung Pembangunan Pabrik Semen

Jember-LONTAR.
Kalangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jember, menyambut baik dimanfaatkannya bahan galian batu kapur di Gunung Sadeng, Desa Grenden, Kecamatan Puger, untuk bahan baku semen. Pasalnya, dengan dimanfaatkannya batu kapur untuk bahan baku semen, ada harapan kesejahteraan masyarakat setempat akan membaik


Selama ini, potensi bahan galian batu kapur yang terdapat di Grenden, Puger, lebih banyak dimanfaatkan untuk memenuhi bahan bangunan. Pun pengerjaannya dilakukan secara tradisional. Padahal kekayaan yang terkandung di dalamnya, cukup besar
Karena itu, masuknya investor yang akan memanfaatkan bahan kapur untuk bahan baku semen tersebut, disambut baik oleh kalangan dewan. Masuknya investor yang diikuti dengan didirikannya pabrik semen di kawasan itu, dinilai anggota dewan sebagai pertanda baik untuk masa depan Jember.
Diharapkan, dengan didirikannya pabrik semen mini dengan kapasitas 1000-3000 ton perhari itu, akan berimbas pada sektor yang lain. Sehingga seluruh potensi yang ada dapat dieksplorasi untuk kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Anggota komisi B DPRD Kabupaten Jember, H Niti Suroto, mengatakan didirikanya pabrik sement mini yang menggunakan bahan baku dari Gunung Sadeng, Grenden, Puger, tidak perlu dikhawatirkan akan menghabiskan cadangan bahan galian yang ada di sana. Itu karena, proses didirikannya pabrik semen di kawasan tersebut, sebelumnya sudah melalui kajian dan analisis mendalam, baik dari sisi ekonomi maupun masa jangka waktu eksploitasi baku yang dimanfaatkan.
“Jadi tidak perlu khawatir, karena penggunaan bahan baku batu gamping sebagai semen, tidak akana habis, mengingat kapasitas produksi yang dihasilkan kategori kecil,” ujarnya.
Untuk tahap awal produksi, pabrik semen ini akan menggunakan bahan baku dari limbah bongkahan batu-batu yang berserakan dan menggunung di kaki Gunung Sadeng. Bongkahan batu dari hasil penambagan para penambang yang tidak termanfaatkan itu, kemudian diolah untuk dijadikan semen.
Pemanfaatan limbah batu gamping untuk bahan semen ini menurut Niti, sebagai hal yang sangat inovatif. Mengingat, selama ini bongkahan batu gamping itu, hanya dibiarkan menggunung tanpa termanfaatkan dengan baik.
“Saya sama sekali tidak merasa was-was maupun dirugikan adanya pabrik semen mini Puger. Kalau ada masyarakat yang masih was-was, itu berlebihan memandang suatu yang baru dan belum diketahui manfaatnya untuk kepentingan yang lebih besar,”katanya.
Menurutnya, pendirian pabrik semen di kawasan itu pada saatnya nanti akan dapat memberikan keuntungan kepada banyak pihak, khususnya para penambang. “Penambang tradisional akan lebih diberdayakan, dengan satu catatan dibangun komitmen yang jelas. Sehingga kedepan produksi pabrik semen akan lebih meningkat seiring meningkatnya kesejahteraan warga masyarakat Puger secara umum,”imbuh Niti.(ind).

Senin, 20 Juli 2009

RSUD dr. Subandi Tambah Biaya Untuk Ruang Perawatan Kelas 3 Guna Tutupi Kekurangan Biaya Operasional

Jember-LONTAR
Menyusul tidak diberikannya biaya operasional oleh Pemerintah Kabupaten Jember, rumah sakit umum daerah (RSUD) dr Soebandi, Jember, nekad mengambil kebijakan sendiri dengan melakukan penambahan tarif biaya untuk ruang perawatan kelas III sebesar Rp 50 ribu. Tindakan seperti ini oleh banyak kalangan dianggap memberatkan masyarakat miskin, sebab sebelumnya untuk biaya pelayanan kesehatan pada ruang perawatan itu, rumah sakit hanya membebani pasien dengan tarif sebesar Rp 10 ribu, sesuai Peraturan Daerah (Perda) yang dikeluarkan sejak tahun 90-an.
Pihak RSUD dr Subandi sendiri berdalih, bahwa pemberlakuan biaya sebesar Rp 50 ribu untuk ruang perawatan kelas III itu, untuk menutupi biaya kekurangan biaya operasional. Biaya operasional ini, kata dr Yuni Erminta, diantaranya untuk kebutuhan makan pasien, biaya listrik, biaya cleaning service dan biaya Alat Kesehatan (Alkes) habis pakai.
“Sekarang saja, kebutuhan untuk makan dirasa cukup besar, dan dengan uang 10 ribu rupiah sangat sulit pihak rumah sakit untuk menutupi kekurangannya,” terang Yuni Erminta, Direktur RSUD dr Subandi, Jember.
Dikatakan Yuni, bahwa biaya tambahan pelayanan sebesar Rp 50 ribu yang diberlakukan hanya bagi pasien rawat inap di ruang perawatan klas III tersebut, sebenarnya tidak terlalu besar. Karena sesuai kententuan Menkes RI, No. 125/Menkes/II/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) tahun 2008, untuk layanan perawatan pada ruang kelas yang sama tarifnya sebesar 90 ribu/hari. “Kalau dibandingkan dari ketentuan Menkes RI, tarif baru tersebut sangat jauh dibawahnya, tapi yang terpenting pelayanan di RS ini tetap bisa berjalan dengan lancar,”jelasnya.
Alasan lain yang dikatakan Yuni, terkait tambahan tarif pelayanan ini, yakni agar keberadaan rumah sakit pemerintah ini tidak terus merugi, sebab untuk biaya operasionalnya sudah tidak lagi diberi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember. “Biaya operasional dibebankan pada pendatapan rumah sakit itu sendiri tanpa APBD, “tandasnya.
Selain pemberlakuan tambahan biaya pelayanan untuk rawat inap di ruang perawatan kelas III, Rumah Sakit (RS) dr. Soebandi juga menambah 25% biaya laboratorium (lab) dan kenaikan biaya sebesar 25 % itu hanya cukup untuk mengganti bahan habis pakai yang digunakan oleh pasien. “Selisih kenaikan harga tersebut sangat minim sekali hanya cukup untuk ganti Alkes habis pakai, “jelasnya.
Sementara itu Kabag. Humas Pemkab Jember, Drs. Agoes Slameto berharap meski RS ini minim akan biaya, tetapi pelayanan kesehatan kepada masyarakat harus tetap menjadi tujuan utama. “Sebab kesehatan merupakan salah satu program prioritas Pemkab Jember, “ujarnya.
Apalagi RS milik pemerintah ini dinilai paling lengkap peralatan medisnya, bila dibanding dengan RS lainnya yang ada di Kabupaten Jember. “Dan mengenai tarif pelayanan kesehatannya juga dirasa masih terjangkau oleh masyarakat menengah kebawah, “pungkasnya.(jon)



Jumat, 17 Juli 2009

Sekkab Jember Divonis 2 Tahun


Jember-LONTAR
Pemerintah Kabupaten Jember kembali dibuat geger. Kejelasan status hukum Sekkab Jember Drs Djoewito, MM, dalam kasus penyalahgunaan dana bantuan hukum, sebesar Rp 450 juta dan dugaan korupsi uang kas daerah senilai Rp 1,781 miliar, akhirnya terjawab.
Mahkamah Agung akhirnya menjatuhkan vonis 2 tahun penjara kepada Sekretaris Kabupaten Jember Djoewito. Namun Pengadilan Negeri Jember menyurati Mahkamah Agung karena ada selembar halaman putusan MA yang hilang."Kami menerima putusan dari MA 29 Juni 2009. Isinya menghukum terdakwa dua tahun penjara. Ada denda dan hukuman ganti rugi, tapi saya tidak hafal. Nanti saja setelah berkas putusan diperbaiki," kata Ketua Pengadilan Negeri Jember Singgih Budi Prakoso, Kamis (16/7/2009). Surat MA bernomor 647/K/PID.SUS/2008 tertanggal 28 Agustus 2008.

Menurut Singgih, dalam berkas itu ada satu halaman dari 40 halaman yang tidak ada. PN Jember mengembalikan berkas itu dan minta dilengkapi, karena nantinya berkas tersebut akan diberikan kepada pihak-pihak yang berperkara.

Sementara itu, putusan Peninjauan Kembali (PK) untuk kasus korupsi mantan Bupati Jember Samsul Hadi Siswoyo belum turun. Begitu juga putusan kasasi kasus korupsi mantan Kepala Badan Urusan Logistik Jember Mucharror.

Sebelumnya, Sekretaris Kabupaten Jember Djoewito tersangkut dua perkara sekaligus, yakni dugaan korupsi uang kas daerah senilai Rp 1,781 miliar dan penyalahgunaan dana bantuan hukum sebesar Rp 450 juta. Ia dituntut tiga tahun penjara oleh jaksa. Namun, pada 21 Januari 2008, ia divonis bebas oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jember, yang diketuai Mujahri.
Saat itu, Mujahri menjelaskan dalam dua perkara korupsi yakni dana bantuan hukum dan perkara Kasda Jember, tidak terbukti secara sah dan meyakinkan adanya tindakan korupsi.

Dalam dakwaan subsider dan primer terkait dengan dana Kasda Jember Majelis Hakim menilai Sekkab Jember hanya menjalankan perintah dari Bupati Syamsul Hadi Siswoyo sebagai atasan. "Tidak ada ditemukan upaya Djoewito memperkaya diri sendiri," katanya.

Menurutnya sebanyak 23 item pengeluaran uang telah disalurkan sebagaimana peruntukan dan tidak ada bukti yang meyakinkan melakukan tindakan memperkaya diri.

Sementara dakwaan bantuan hukum sebesar Rp 450 juta juga dinyatakan tidak bersalah karena hanya berperan sebagai ketua tim anggaran yang tidak memiliki kewenangan menentukan kebijakan masalah dana bantuan hukum.

Selain itu dana bantuan hukum untuk pimpinan dan anggota DPRD Jember dinilai oleh Majelis Hakim diperbolehkan karena sesuai dengan UU yang berlaku Pemkab adalah bagian dari Pemerintahan Daerah Kabupaten Jember.
Sementara itu Sekretaris Kabupaten Jember Djoewito mengaku belum tahu putusan kasasi Mahkamah Agung, terkait kasusnya. Ia juga belum menyiapkan rencana untuk mengajukan peninjauan kembali (PK), dan menggangp itu sebatas isu.
"Saya legawa (besar hati). Tapi sampai detik ini saya belum tahu. Mudah-mudahan itu tidak benar," kata Djoewito saat ditemui di kantor Pemkab Jember.

Djoewito menyatakan, aktivitasnya sebagai pegawai Pemkab Jember tidak terganggu. "Saya masih memimpin rapat. Di dunia ini banyak hal yang tidak bisa kita terima tapi kita harus menerimanya," katanya



Senin, 06 Juli 2009

Hanya 23 Kecamatan yang Mendapatkan PNPM

Dari 31 Kecamatan yang ada di Kabupaten Jember
Jember-LONTAR.
Peningkatan kesejahteraan masyarakat yang menjadi program prioritas, baik pemerintah pusat maupun daerah, diharapkan akan mampu mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi bangsa ini. Lewat program peningkatan kesejahteraan melalui pemberdayaan masyarakat ini, pemerintah berupaya menggerakkan kreatifitas masyarakat melalui steakholder yang ada dibawahnya.
Kaitan dengan program ini, Badan Pemberdayaan Masyarakat (BAPEMAS) Kabupaten Jember, yang mendapatkan kucuran dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Mandiri Pembangunan (PNPM-MP) sebesar Rp 68 milliar, pada tanggal 30 Juni lalu, menggelar sosialisasi. Pemanfaatan dana yang diperuntukkan bagi 23 kecamatan dari 31 kecamatan yang ada di Kabupaten Jember ini, diharapkan akan mempercepat upaya pengentasan kemiskinan, utamanya di Kabupaten Jember.
Dipilihnya 23 dari 31 kecamatan tersebut, menurut Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas), Kabupaten Jember, Ir Suhardiyanto, didasarkan atas penilaian, bahwa jumlah masyarakat miskin (maskin) pada kecamatan ini terbilang cukup tinggi. Masing-masing kecamatan untuk program ini, akan mendapatkan dana Rp 3 milliar, kecuali Kecamatan Umbulsari yang jumlah maskinnya terbilang sedikit, hanya mendapatkan Rp 2 milliar.
Dijelaskan Soehardijanto, bahwa program PNPM-MP ini merupakan sharing program antara pusat dan daerah, yang dananya diambil dari APBN dan APBD. Pusat menyediakan 60 persen dari kebutuhan dana yang ada, sedangkan Pemkab Jember 40 persen.
Program peningkatan mutu kehidupan dan kesejahteraan masyarakat ini, lanjut Suhardiyanto, merupakan upaya pemerintah, untuk memberdayakan masyarakat. Karena itu, dalam pelaksanaannya, masyarakat sendiri yang akan melaksanakannya.
Untuk keperluan ini, Bappemas telah menunjuk Petugas Pelaksana Kegiatan (PPK) sebagai pendamping masyarakat dalam melaksanakan program tersebut. “PNPM-MP dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang langsung berkaitan dengan masyarakat, antara lain pembangunan jalan non aspal, pembangunan irigasi, fasilitas pendidikan berupa pos-pos PAUD, layanan kesehatan dalam bidang posyandu, serta peningkatan keterampilan ibu-ibu rumah tangga,”papar Suhardiyanto.
Bupati Jember, MZA Djalal, dalam sambutannya yang dibacakan, Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Drs. H Edi B Susilo, M.Si, menjelaskan, bahwa peruntukkan dari program ini murni untuk masyarakat. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan di lapangan, diharapkan benar-benar untuk kepentingan masyarakat.
Dikatakannya, bahwa program ini juga harus dikembangkan serta dilaksanakan oleh masyarakat sendiri guna pengembangan ekonomi kreatif dalam rangka peningkatan kesejahteraan. “Ini diperlukan partisipasi semua elemen masyarakat, serta koordinasi seluruh aparat yang ada. Baik desa atau kelurahan maupun kecamatan. Ini menunjukkan, bahwa keberhasilan dari sharing program ini bukan untuk pemerintah, akan tetapi merupakan keberhasilan masyarakat Jember secara keseluruhan. (ind)



Disamping itu menurut Bupati Jember, MZA Djalal, melalui Kabag Humas PemKabupatenJember, Drs. Agoes Slameto, bahwa Bupati Djalal menekankan PNPM-MP merupakan sebuah integrasi program penanggulan kemiskinan yang sangat mulia. Karena program tersebut masyarakat diberikan pelatihan, pembinaan melalui pola pemberdayaan yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri lewat pendampingan yang telah disetujui dan digagas oleh masyarakat sendiri. Lanjut Agoes, pemerintah hanya memberikan fasilitas dan monitoring, serta evaluasi terhadap penggunaan dana tersebut. Untuk itulah Bupati berharap, hendaknya program yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk kemakmuran semua masyarakat yang ada. Ditegaskan pula oleh, Bupati Jember mengharapkan agar SKPD-SKPD yang telah ditunjuk untuk tidak ragu-ragu melaksanakan program ini sesuai Petunjuk Teknis Operasional (PTO) yang ada, sehingga visi misi Kabupaten Jember bisa terwujud dalam rangka Membangun Desa Menata Kota Untuk Kemakmuran Bersama.

Program ini kata Suhardiyanto, juga dibantu melalui ADB (Asian Development Bank), juga melalui partisipasi pihak perbankan.

Saatnya Menyertakan Agropolitan Sebagai Predikat Daerah


Jember yang Hijau dan Kaya akan Potensi Pertanian
Jember- LONTAR.
Kabupaten Malang segera mewujudkan impiannya menjadikan daerahnya Minapolitan. Lalu bagaimana dengan Kabupaten Jember yang kondisi wilayahnya nyaris tidak berbeda jauh dengan Malang. Kapan kota di kawasan timur Jawa Timur ini, menyertakan predikat Agropolitan bagi daerahnya?.

Kabupaten Malang yang sejak dulu dikenal sebagai daerah penghasil buah-buahan, belakangan mulai menyoroti sektor perikanan untuk dijadikan sasaran pengembangan potensi yang dimilikinya. Kabupaten ini berencana membuat kolam berukuran raksasa yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pemancingan, termasuk kewisataan.
Ada tiga lokasi yang menurut rencana disiapkan untuk proyek ini, yaitu Desa Sukoanyar, Blayu dan Baringin, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Penyiapan lokasi oleh Pemkab Malang ini, sesuai kesepakatan yang telah dibuat antara Pemkab Malang dengan Pemprop dan pemerintah pusat.
Pemkab Malang sebagai pihak yang berketempatan atas lokasi proyek yang akan dilaksanakan, kebagian jatah menyiapkan lahan. Sedang pemprop kebagian membangun infrastruktur jalan, dan pemerintah pusat yang akan melaksanakan pembangunan kolam serta berbagai sarana penunjang yang dibutukan untuk kompleks minapolitan.
Kompleks Minapolitan tersebut, sebagaimana dikatakan Kepala Bagian Pertanahan Malang, M Jamhuri, akan dibiayai dari dana APBD kabupaten, APBD provinsi dan APBN. Dan untuk keperluan ini, sudah disediakan lahan berikut ketersediaan air yang cukup untuk menyuplai kolam-kolam ikan.
Lalu bagaimana dengan Kabupaten Jember, yang secara geografis kondisinya tidak jauh berbeda dengan Kabupaten Malang. Daerah ini sebenarnya sama-sama memiliki peluang untuk menjadikan potensi pertaniannya sebagai icon daerah.
Telebih lagi, dari kebijakan dan program yang diluncurkan, sektor pertanian cukup mendapat perhatian dari Pemkab Jember. Ini terbukti, sektor ini dimasukkan ke dalam skala prioritas pembangunan di Kabupaten Jember, selain beberapa program lainnya, seperti pendidikan, kesehatan dan sarana prasarana pedesaan.
Dari beberapa indikasi ini, Jember sudah seharusnyalah menyandangkan nama Agropolitan bagi daerahnya. Kalau Kabupaten Malang berani menyertakan nama Minapolitan (kota ikan) sebagai sebutan lain dari daerahnya, lalu kapan Kabupaten Jember, menyertakan sebutan Agropolitan, sebagai nama lain dari daerahnya.
Penamaan Agropolitan untuk Kabupaten Jember, sebenarnya tidak terlalu berlebihan, bahkan sangat pas dan pantas. Mengingat daerah ini sebagian besar wilayahnya terdiri atas lahan pertanian, ditambah penduduknya yang sebagian besar menggeluti dunia pertanian.
Lihat saja, Sungai Bondoyudo yang mengalir di sepanjang jalan poros Jember-Surabaya, memberi kesan, bahwa daerah ini layak untuk disebut sebagai daerah Agropolitan. Itu karena, fungsi dari sungai buatan ini bukan sebagai saluran pembuangan, tapi untuk mensuply kebutuhan air bagi persawahan yang ada di sepanjang sungai tersebut.
Dilain sisi, sungai yang membentang dari wilayah timur Kabupaten Lumajang hingga wilayah selatan Kabupaten Jember ini, dapat pula menjadi pemandangan yang menyegarkan bagi masyarakat luar kota yang hendak ke Jember. Mengingat, letak dari sungai ini persis berada di pinggir jalan poros jurusan Jember-Surabaya.
Sungai ini sekaligus juga berfungsi sebagai pintu masuk ke Kabupaten Jember, sekaligus juga sebagai pengenal bagi Kabupaten Jember kepada masyarakat dari luar daerah, bahwa wilayah ini merupakan daerah pertanian yang menjadi lumbung pangan untuk kawasan Jawa Timur, bahkan nasional.
Kabag Humas, Pemkab Jember, Drs Agus Slameto, M.Si, menilai penyebutan Jember sebagai Kota Agropolitan, sudah saatnya dilakukan. Itu karena, banyak indikator yang bisa dijadian acuan untuk menjadikan Jember sebagai daerah Agropolitan.
Hal itu diantaranya, adanya Kantor Wilayah I dan II, PT Perkebunan Nusantara XII. Kantor ini menjadi pusat kegiatan perusahaan perkebunan milik pemerintah untuk wilayah timur Jawa Timur. Di daerah ini juga terdapat beberapa perkebunan milik swasta, seperti Perkebunan Kalitengah, Sukokulon, Kaliglagah, Tugusari dan beberapa perkebunan lainnya.
Bahkan Jember juga memiliki badan usaha milik daerah (BUMD), yang bergerak di sektor perkebunan, yakni Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP). Di daerah ini, juga ada ada Pusat Penelitian Kopi dan Kakao serta Laboratorium Penelitian Kualitas Tembakau. “Indikatornya, 40 % kebutuhan pangan nasional dipasok dari Jember. Jumlah areal pertanian dan perkebunannya juga di atas rata-rata standar nasional,” terangnya.
Sedang indikator umum yang bisa dijadikan acuan untuk menjadikan Jember sebagai daerah Agropolitan, kata Agus, yakni pasokan air untuk keperluan irigasi, baik melalui pengairan teknis maupun non teknis, sangat tercukupi. “Dari sisi demografi, 70 % masyarakat Jember adalah petani. Dan dari tahun ke tahun produksi pangannya terus meningkat,” jelasnya
Besarnya potensi yang dimiliki Kabupaten Jember di bidang pertanian ini, juga didukung oleh banyaknya komoditi pertanian. Berbagai jenis buah-buahan sampai tanaman pangan dan palawija serta sayuran, sangat mudah dijumpai di daerah ini.
Lebih dari itu, di daerah ini juga berdiri lembaga pendidikan yang terkait dengan dunia pertanian. Lembaga itu seperti, Politeknik Pertanian, Klinik Agro di Umbulsari, dan beberapa lembaga pertanian lain yang cukup banyak berdiri di Jember. “Belum lagi adanya Fakultas Pertanian, Universitas Jember. Jadi sangat tepat kalau Jember dikatakan sebagai daerah Agropolitan,”tambahnya. (gig)

Iklim Investasi Mulai Bergairah


Jember-LONTAR.
Iklim investasi di Kabupaten Jember, sejak tiga belakangan menunjukkan peningkatan yang cukup menggembirakan. Ini ditandai dengan masuknya pemilik modal, baik dalam negeri (PMDN) maupun asing (PMA). Tercatat, sektor pertambangan, yang sejak beberapa tahun sebelumnya banyak disinggung, pada beberapa waktu lalu sudah berancang-berancang untuk dimulai eksplorasinya.
Rencana penambangan pasir besi di kawasan pantai selatan, Paseban, Kecamatan Kencong oleh PT Agtika Dwi Sejahtera (investor) ini, dilihat dari beberapa aspek, akan banyak memberikan keuntungan bagi masyarakat maupun Pemkab Jember. Selain terserapnya para pencari kerja pada kawasan itu, penambangan pasir besi ini juga akan memberikan sumbangan pendapatan asli daerah (PAD) yang nilainya tentu tidak kecil.
Kegiatan penambangan pasir besi pada kawasan ini, juga diyakini tidak akan meninggalkan persoalan lingkungan hidup. Karena dari pihak investor, sesuai MoU yang telah dibuat bersama Pemkab Jember, menyatakan kesediannya untuk berupaya tidak melakukan perusakan terhadap lingkungan tempat dilakukannya penambangan pasir besi.
Dan factor masyarakat dan lingkungan hidup, menjadi pertimbangan utama, kaitan dengan kegiatan eksplorasi tambang pasir besi. Karena kecenderungan dari kegiatan penambangan akan disertai oleh terjadinya perubahan struktur tanah dan bisa mempengaruhi lingkungan.
Sebagaimana dikatakan pihak investor, bahwa rencana proyek penambangan yang akan dijalankan adalah dengan cara memanfaatkan lahan tidak produktif menjadi produktif. Dalam arti, unsur Fe-nya atau besinya akan diambil, sehingga lahan itu bisa lebih diproduktifkan.
“Jadi perencanaan ini memang cukup hati-hati karena harus memperhatikan lingkungan. Kita lihat sisi baiknya, jadi masyarakatpun dapat keuntungan, karena kalau unsur Fe-nya kita buang, lahan itu bisa ditanami kembali, tumbuh-tumbuhan bisa jadi subur,”papar Sudarsono, investor penambangan pasir besi asal Jakarta, ketika itu
Kegiatan investasi lain yang sedang maupun sudah berjalan di Kabuaten Jember, adalah Pizza Hut dan Pabrik Semen Puger. Untuk Pizza Hut yang sejak dua tahun lalu memasuki daerah ini, belakangan disusul masuknya PT Semen Puger Jaya Rasa Sentosa, yang akan memanfaatkan bahan baku batu kapur Gunung Sadeng, Puger, untuk diolah menjadi bangunan berupa semena.
Bupati Jember, MZA Djalal, yang melakukan peletakan batu pertama pada rencana pembangunan pabrik Semen Puger itu, dalam sambutannya mengatakan, semoga niat yang baik ini akan membawa kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Jember pada umumnya. Pada kesempatan itu, Bupati Djalal meminta semua rekanan dan masyarakat yang melakukan pembangunan gedung, bisa menggunakan semen produksi Puger. “Kalau semua bangunan pakai semen ini akan memberikan nilai tambah dan produksi semen puger ini akan meningkat tajam”, katanya.
Sedang kepada pihak investor, bupati meminta, agar keuntungan yang diperolehnya dari usaha pembuatan semen, disimpan di bank yang ada di daerah ini. Ini dimaksudkan, agar pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Jember, dapat semakin meningkat. “Sehingga ini akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat,”ujarnya.
Sementara Direktur Utama, PT Semen Puger Jaya Raya Sentosa, Hengky Sugiharto Gunawan, mengatakan, bahwa keinginannya untuk mendirikan pabrik semen di Jember ini berawal dari kunjungannya ke negeri Tiongkok. Di negeri berpenduduk terpadat di dunia itu, Hengky mengaku melihat banyak pabrik kecil yang dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat.
Dari yang dilihat itu, sepulang dari Tiongkok, Hengky langsung menghadap Bupati Djalal, untuk menyampaikan niatnya. “Kami langsung mengurus perijinan yang dibantu langsung oleh Bapak Bupati Djalal dengan menggerahkan stafnya dibagian perijinan”, kisahnya.(ind)

Bravo, Visit Jember Month !!!

Mungkin tidak terlalu berlebihan kalau di awal tulisan ini, penulis menyampaikan ucapan Selamat untuk Bapak Bupati Jember, Ir MZA Djalal. Karena dengan gagasan dan upayanya, Kota Jember sekarang lebih dikenal dan banyak dibicarakan orang dari lain daerah.

Bravo untuk Pak Djalal. Kami kagum dan harus memberikan acungan jempol atas upaya yang sudah dilakukan, karena lewat gagasan-gagasannya sekarang Kota Jember banyak mengalami perubahan. Tidak hanya namanya saja yang semakin dikenal orang di lain daerah dan mancanegara, tapi performa Kota Jember, juga terlihat semakin cantik saja.

Dari sisi pemberdayaan, sukses melambungkan nama Jember melalui gebyar Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ) ini, juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Banyak perusahaan konveksi dan percetakan, kebanjiran order, menjelang BBJ digelar,.

Belum lagi bagi perusahaan makanan yang ada di Jember. Dengan semakin banyaknya kegiatan yang digelar pada event BBJ, para penjual makanan atau catering ini, banyak yang menerima pesanan. Dan yang seperti ini, sejak awal BBJ direncanakan memang sudah menjadi harapan dari penggagasnya, yaitu Bupati Djalal sendiri.

Itu dari sektor tertentu saja, belum lagi dari sektor yang lain. Lewat BBJ dan kegiatan promosi potensi yang dilakukan ke berbagai penjuru, sekarang Kabupaten Jember, mulai dilirik para pemilik modal. Setidaknya sudah ada beberapa investor yang sudah menanamkan modalnya di daerah ini, seperti Pizza Hut, Pabrik Semen Puger, dan Penambangan Pasir Besi, di Kencong.

Dari beberapa catatan ini kiranya cukup untuk sekadar contoh, bahwa sebagian dari tujuan digelarnya BBJ, sudah tercapai. Memang disadari, untuk tercapainya semua tujuan itu, bukanlah perkara gampang, karena selain membutuhkan waktu yang cukup, proses pencapaiannya pun juga tidak mudah, butuh perjuangan dan berbagai upaya.

Sekarang terlepas dari hasil yang sudah dicapai lewat gelaran BBJ. Kini yang patut mendapat perhatian dari keinginan demi keinginan yang hendak dicapai lewat BBJ adalah, bagaimana momentum tahunan ini tidak sampai menyingkirkan peradaban dan kebudayaan serta mengorbankan keadiluhungan norma yang berlaku di masyarakat.

Boleh-boleh saja Jember mengobsesikan dirinya menjadi daerah tujuan wisata, dan itu sangat bagus. Karena kalau impian itu bisa terwujud, maka tingkat kunjungan wisata ke daerah ini, akan semakin tinggi. Buntutnya, masyarakat akan ikut kecipratan rejeki dari perputaran uang lewat kegiatan belanja para wisatawan.

Masyarakat bisa menjual berbagai produk yang dihasilkan. Baik yang berupa hasil kerajinan (souvenir), produk pakaian, songkok dan batik khas Sumberjambe, usaha makanan, atau hasil bumi dari para petani.

Hanya saja yang perlu mendapat perhatian, yakni kemungkinan berubahnya masyarakat dan wajah Jember, ketika banyak wisatawan asing masuk. Karena klau Jember sudah kerap dikunjungi wisatawan, utamanya yang datang dari luar negeri, maka ada yang namanya penetrasi budaya. Dimana, peradaban yang lebih tinggi, berkecenderungan akan menekan (mempengaruhi) peradaban lain yang lebih rendah

Karena itu, untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya yang demikian, perlu kiranya Pemkab Jember, sedikit lebih selektif dalam menentukan obyek wisata yang akan dikembangkan. Kalau sekiranya obyek wisata itu akan bisa mempengaruhi (merusak) budaya masyarakat lokal, mungkin ada baiknya kalau upaya pengembangannya, perlu ditinjau ulang.

Contoh, pengembangan kewisataan pantai sebagaimana yang sudah dilakukan beberapa daerah atau negara, seperti Bali, Hawaii, Kawasan Caribian, atau Pattaya di Thailand, dan lainnya, para wisatawannya lebih banyak dari kalangan yang suka buka-buka aurat. Atau dengan kata lain, mereka suka tidak menggunakan pakaian (telanjang-red), saat menikmati dan bermain di pantai.

Nah, kalau yang seperti ini dikembangkan di Jember, jelas akan banyak mendapat tantangan dari masyarakat. Karena disadari atau tidak, budaya yang hidup di daerah penghasil Tembakau ini, kental dengan nuansa keagamaan.

Karena itu, kalau boleh usul, pengembangan kewisataan di Jember, haruslah tetap mengacu pada kehidupan budaya yang berlaku di masyarakat. Artinya, pengembangan potensi kewisataan ini, dilandasi oleh kebiasaan-kebiasaan yang biasa dilakukan masyarakat.

Banyak yang bisa dilakukan, kaitan dengan pengembangan kewisataan dengan nuansa natural ini. Seperti Angon Bebek atau Panen Padi, yang biasa dilakukan masyarakat pedesaan, kalau kegiatan itu bisa dikemas dengan baik dan dilokalisir, maka akan mempermudah wisatawan asing untuk menikmatinya.

Ketertarikan wisatawan asing terhadap hal-hal yang naturalis ini, sering disampaikan mereka yang memang pernah berhubungan dan melihat langsung para turis yang terheran-heran melihat seorang pengembala bebeknya.

Tidak hanya itu saja yang bisa dilakukan dalam rangka meningkatkan kunjungan wisata ke Jember. Masih banyak kegiatan dan potensi lain yang bisa dikembangkan untuk kepentingan kewisataan. Contoh lain, Sungai Bondoyudo, yang letaknya persis di pinggir jalan poros Jember-Surabaya dan arusnya cukup tenang, sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lomba dayung atau rakit.

Kalau lomba dayung atau rakit ini bisa digelar di sungai itu, jelas akan banyak mendapat perhatian dari pengguna dan penumpang kendaraan yang melintas di jalan tersebut. Dan ujung-ujungnya, masyarakat kecil bisa memanfaatkan event itu untuk menambah pendapatannya.

Karena itu, mari kita bangun kewisataan Jember dengan nuansa dan aroma yang benar-benar berbau Jember. Banyak yang bisa dilakukan untuk kemajuan dunia wisata di Jember, tanpa harus mencontoh atau mencontek daerah lain.

Daerah ini kaya akan potensi kewisataan. Tinggal bagaimana potensi kewisataan yang tersebar di hampir seluruh kecamatan di Jember itu bisa dikemas dan dimanaj dengan baik, sehingga mempunyai nilai jual yang tinggi.

Dan yang terpenting lagi, bagaimana upaya peningkatan kunjungan wisata ke Jember ini, tidak sampai merusak budaya dan kebiasaan yang sudah hidup secara turun temurun. Bravo, Pak Djalal. Bravo, Visit Jember Month (BBJ). Jember must be developed based on its own characteristic. (*)